Klinik Asha

Melayani dengan Hati

DISFAGIA ATAU GANGGUAN MAKAN DAN MENELAN

Disfagia atau yang lebih di kenal dengan gangguan menelan dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti aspirasi paru-paru, malnutrisi, dehidrasi dan paling berbahaya adalah obstruksi jalan nafas.

Gangguan menelan ini banyak ditemukan pada kasus-kasus pasien dengan pasca stroke, parkinson, manula, demensia, cedera otak dan keganasan saluran pencernaan bagian atas (Nasofaring, lidah, dan bagian mulut, tenggorokan dan kerongkongan).

Apa-apa saja faktor risiko yang menyebabkan terjadinya disfagia dan bagimana tatalaksana pengobatan berdasarkan kedokteran rehabilitasi medik. Apakah ada latihan khusus yang harus di lakukan oleh pasien dengan gangguan menelan ini.

Saksikan penjelasan dr. Fitri Anestherita, Sp.KFR di Stasiun Daai TV pada hari Selasa tgl 9 Februari 2016 pukul 11.00-12.00 wib (siaran langsung) bisa tanya jawab dengan dokter secara interactive.
dan siaran ulang pada hari yang sama pada pukul 17.00-16.00 wib dan pukul 23.00-24.00 wib.
Dont Miss It.


                                                                                                                                               NYERI TULANG EKOR
TULANG EKOR.
Tulang koksiks atau koksiges atau yang lebih di kenal sebagai tulang ekor, adalah bagian paling ujung dari kolom tulang belakang pada primata tak berekor.Terdiri dari tiga atau lima vertebra terpisah atau menyatu di bawah sakrum.
Fungsi tulang ini menyangga tulang di sekitar panggul. Tulang ekor juga merupakan titik pertemuan dari beberapa otot kecil.
Ruas tulang ini biasanya terlindungi dengan baik, namun ketika terluka karena jatuh atau trauma lainnya maka tulang ekor dapat mengalami memar atau dislokasi dan menyebabkan rasa sakit.
Sakit pada tulang ekor merupakan sebuah sensasi rasa sakit yang terletak di daerah bokong bagian tengah. Tak jarang rasa sakit bisa menjalar ke pinggang atau daerah lain yang berdekatan.
Nyeri tulang ekor sering terjadi dan menyebabkan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengemudi, membungkuk dan duduk.
Gejala yang dapat terjadi:
- Nyeri punggung bawah
- Nyeri daerah bokong
- Nyeri menjalar ke tungkai bawah
- Nyeri sebelum atau saat BAB
- Nyeri saat berhubungan
-Pada wanita yang sedang menstruasi dapat menyebabkan nyeri bertambah.

Dari sepertiga kasus nyeri tulang ekor, tidak ditemukan penyebab yang jelas. Pada sebagian besar kasus, nyeri tulang ekor terdiagnosa berdasarkan gejala dan pemeriksaan punggung bawah dan tulang belakang.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan :
- Rontgen 2 posisi (duduk dan berdiri). Untuk membandingkan keduanya, menentukan apakah tulang ekor bergerak lebih dari normal saat duduk atau berdiri. Rontgen juga digunakan untuk menilai kemungkinan patah tulang ekor
- MRI-Scan, memeriksa kemungkinan lain seperti infeksi atau kanker tulang ekor, yang dapat menyebabkan gejala yang tidak dapat dijelaskan.

Mengatasi nyeri tulang ekor, dapat dilakukan dengan :
- Obat penghilang rasa sakit
- Sering ubah posisi, dari duduk ke berjalan dan sebaliknya
- BAB secara teratur, rectum yang penuh dapat menekan tulang ekor dan memperberat nyeri
- Bantal donat
- Fisiotherapi 
- Jika gagal : steroid injeksi
 
REHABILITASI NYERI
Secara definisi, nyeri adalah perasaan tidak nyaman yang muncul akibat stimulus (rangsangan) yang terus-menerus dan bersifat merusak seperti jari kaki yang terbentur/tertusuk, jari tangan yang terbakar, dll.
Tentunya sebagian besar dari kita membenci timbulnya rasa nyeri. Nyeri merupakan salah satu alat komunikasi terpenting dari tubuh. Nyeri merupakan salah satu cara tubuh memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian. Nyeri memberikan motivasi bagi seseorang untuk menarik bagian tubuh yang terancam dari situasi tersebut, untuk melindungi bagian tubuh yang mengalami kerusakan sementara memberikan kesempatan untuk penyembuhan, dan menghindari pengalaman serupa dikemudian hari.

Pengalaman nyeri bervariasi dari satu orang ke orang lain, nyeri dapat dikategorikan dalam berbagai tipe (klasifikasi nyeri).
1. Klasifikasi berdasarkan bagian tubuh yang mengalami nyeri
2. Klasifikasi berdasarkan jaringan tubuh yang terkena (kulit, otot, visera/ organ dalam tubuh, sendi, tendon dan tulang)
3. Klasifikasi berdasarkan waktu : Nyeri akut atau nyeri kronik
    - Nyeri akut : < 3 bulan s.d 6 bulan
    - Nyeri kronik : lebih dari 3-6 bulan, atau menetap hingga di luar batas kriteria penyakit akut, atau setelah penyembuhan jaringan secara total
    - Acure-on-chronic pain : acute pain flare superimposed on underlying chronic pain.
4. Klasifikasi berdasarkan fisiologi nyeri (nociceptive, neuropathic, inflammatory)
5. Klasifikasi berdasarkan intensitas nyeri (ringan-sedang-berat; penilaian VAS 0-10)
   - Ringan : <4/10
   - Sedang : 5/10-6/10
   - Berat : >7/10
6. Klasifikasi berdasarkan sindroma tertentu (kanker, fibromyalgia, migraine, dll)
7. Pertimbangan khusus (kondisi psikologis, usia, jenis kelamin, kultur)

PROGRAM REHABILITASI PADA PASIEN PENDERITA NYERI
Pada program ini, pasien belajar bagaimana mengelola nyeri dan belajar teknik untuk rekondisi fisik. Semua obat yang di konsumsi di catat dan di evaluasi. Jika tidak lagi dapat mengurangi nyeri ataupun memperbaiki fungsi, sebaiknya diganti.

Manajemen nyeri
- Injeksi
- Dengan menggunakan alat fisiotherapi untuk mengurangi nyeri
- Terapi relaksasi dengan massage, terapi music, aroma terapi

Latihan Fisik
- Latihan peregangan (Streching)
- Latihan penguatan
  Latihan penguatan membantu agar tugas lebih mudah tercapai, walaupun terdapat nyeri kronik

Terapi Okupasi
- Terapi okupasi mengajarkan pada pasien untuk dapat bekerja dengan lebih efisien, untuk mengurangi nyeri. (seringkali karena nyeri, pasien menghindari gerakan tertentu yang kemudian      menyebabkan nyeri bertambah)

Biofeedback
- Terapi biofeedback memberikan informasi mengenai bagaimana proses yang terjadi dalam tubuh seperti heart rate dan tonus otot dapat dipengaruhi secara negative oleh nyeri kronik.
Biofeedback dapat membantu pasien belajar untuk secara sadar meningkatkan control terhadap proses ini dan mempertahankan control selama aktivitas sehari-hari

Perubahan pola hidup
- Perubahan pola hidup dan kebiasaan merupakan faktor kunci dalam mengelola nyeri kronik
- Perubahan pola hidup terkait dengan nutrisi, kebiasaan merokok, pola tidur dan obat-obatan yang di gunakan untuk membantu pasien mengatasi nyeri.

 
Find us on Maps
klinik asha

Klinik yang memberikan layanan kedokteran fisik dan layanan rehabilitasi, dan berada di Jakarta Pusat.

Search Your Need

© 2015-2017 Klinik Asha. All Right Reserved. Powered by Indotrading.